Apa Saja Aspek Penting yang Harus Diperhatikan Sebelum Perusahaan Diakuisisi?

aspek sebelum perusahaan diakuisisi

Apa Saja Aspek Penting yang Harus Diperhatikan Sebelum Perusahaan Diakuisisi?

“Salah satu aspek sebelum perusahaan diakuisisi adalah identitas perusahaan karena bukan sekadar produk yang dijual, tetapi juga mencakup keyakinan, filosofi, serta cara perusahaan membangun hubungan dengan pelanggan dan komunitas.”

Akuisisi merupakan proses panjang yang memerlukan persiapan matang dari kedua belah pihak. Tidak hanya bagi perusahaan yang akan mengakuisisi, perusahaan yang menjadi target akuisisi juga perlu memperhatikan sejumlah aspek penting sebelum proses tersebut berjalan. 

Selama ini, fokus utama biasanya tertuju pada valuasi serta nilai atau porsi saham yang akan dialihkan, sebab hal tersebut dianggap menjadi tolak ukur keberhasilan negosiasi. 

Namun pada kenyataannya, di luar faktor finansial masih terdapat berbagai aspek non bisnis yang juga perlu menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha atau perusahaan yang akan diakuisisi. Lalu, apa saja aspek tersebut? Simak penjelasan selengkapnya.

Baca juga: Pelajaran Penting bagi Bisnis, Kasus eFishery dan Risiko Manipulasi dalam Akuisisi CV

Mengapa Aspek Non-Bisnis Sama Pentingnya dengan Valuasi

Banyak pelaku usaha beranggapan bahwa selama harga jual dan porsi saham sudah sesuai harapan, akuisisi dapat berjalan mulus. Faktanya, risiko terbesar dalam akuisisi justru sering muncul dari aspek non-bisnis. 

Elemen seperti nilai inti, filosofi perusahaan, dan keberlanjutan strategi sering terpinggirkan dalam proses negosiasi. 

Padahal, identitas inilah yang sering menjadi alasan utama kesuksesan perusahaan sejak awal berdiri. Apabila nilai tersebut hilang, performa bisnis pasca-akuisisi dapat menurun secara signifikan.

Contoh yang sering dibahas adalah akuisisi Ben and Jerry’s oleh Unilever pada tahun 2000. Pendiri Ben and Jerry’s memahami bahwa kekuatan perusahaan tidak hanya berada pada produk es krim, tetapi pada misi sosial dan komitmen keberlanjutan yang sudah melekat dalam DNA perusahaan.

Akuisisi baru disetujui setelah Unilever menyepakati pembentukan Social Mission Committee, sebuah komite independen yang berwenang memastikan filosofi dan standar yang sudah tertanam tetap dijalankan. 

Kasus ini menunjukkan bahwa perlindungan non-bisnis dapat dinegosiasikan secara formal dan menjadi bagian dari struktur tata kelola pasca-akuisisi.

Perlindungan atas aspek non-bisnis ini menjadi semakin penting apabila founder masih ingin terlibat dalam perusahaan setelah akuisisi. 

Tanpa mekanisme yang tepat, visi perusahaan dapat bergeser atau bahkan bertentangan dengan identitas lama, yang pada akhirnya dapat membuat founder kehilangan kendali moral maupun strategis. 

Berbeda halnya dengan founder yang bertujuan melakukan full exit. Dalam situasi tersebut, fokus utama memang dapat diarahkan pada valuasi. Namun untuk founder yang ingin menjaga keberlanjutan nilai perusahaan, aspek non-bisnis harus menjadi prioritas sejak awal diskusi.

Baca juga: Diduga Langgar Ketentuan Notifikasi, Akuisisi Tokopedia oleh TikTok Kembali Disorot

Sejumlah  Aspek Sebelum Perusahaan Diakuisisi

Belajar dari kasus Ben and Jerry’s, nilai dan identitas perusahaan terbukti menjadi aspek non bisnis yang sangat penting untuk diamankan dalam proses akuisisi. 

Identitas perusahaan bukan sekadar produk yang dijual, tetapi juga mencakup keyakinan, filosofi, serta cara perusahaan membangun hubungan dengan pelanggan dan komunitas. 

Ketika identitas ini tidak dijaga, perusahaan dapat kehilangan diferensiasi yang selama ini menjadi sumber loyalitas dan keunggulan kompetitif. 

Hal inilah yang mendorong Ben and Jerry’s menegosiasikan mekanisme perlindungan misi agar filosofi dan prinsip keberlanjutan mereka tetap terjaga meskipun kepemilikan berpindah tangan.

Selain nilai dan identitas, aspek lain yang tidak kalah penting adalah standar kualitas produk atau layanan. Banyak perusahaan bertahan dan berkembang karena konsistensi mutu yang mereka bangun selama bertahun-tahun. 

Jika pihak pengakuisisi melakukan efisiensi secara berlebihan hingga menurunkan standar kualitas, dampaknya dapat langsung terasa pada kepercayaan pelanggan. 

Karena itu, perusahaan perlu memastikan adanya komitmen formal untuk mempertahankan standar mutu, termasuk SOP operasional, kontrol kualitas, dan spesifikasi teknis yang menjadi fondasi reputasi perusahaan.

Aspek berikutnya adalah komitmen etika dan keberlanjutan, termasuk standar ESG. Banyak perusahaan modern didirikan berdasarkan nilai integritas, transparansi, dan tanggung jawab sosial. 

Ketika perusahaan diakuisisi oleh pihak dengan pendekatan etis yang berbeda, risiko reputasi menjadi semakin besar. Untuk mencegah ketidaksesuaian nilai, klausul mengenai etika bisnis dan keberlanjutan perlu dirumuskan secara jelas sehingga seluruh prinsip dasar tetap dipertahankan dalam operasional pasca-akuisisi.

Tidak kalah penting, perusahaan juga harus memperhatikan budaya kerja serta keberlangsungan talenta inti. Tenaga kunci sering kali memegang pengetahuan strategis dan hubungan yang menjadi bagian dari keunggulan kompetitif perusahaan. 

Jika budaya kerja berubah drastis atau talenta utama tidak dipertahankan, stabilitas operasional bisa terganggu. Di sinilah peran retention plan, struktur kompensasi yang terukur, dan perlindungan budaya organisasi menjadi krusial untuk memastikan perusahaan tetap berjalan konsisten meski terjadi perubahan kepemilikan.

Baca juga: Due Diligence Adalah: Aspek yang Diperhatikan dalam Akuisisi

Strategi Apa yang Bisa Diterapkan?

Karena proses akuisisi sangat erat dengan aspek hukum dan administrasi, terdapat sejumlah strategi legal yang dapat diterapkan untuk mengamankan berbagai aspek non-bisnis yang sebelumnya telah dibahas. 

Strategi tersebut mencakup beberapa pendekatan penting yang dapat dituangkan secara jelas dalam dokumen transaksi agar nilai, identitas, budaya, kualitas, serta keberlanjutan perusahaan tetap terlindungi setelah proses pengambilalihan berlangsung.

1. Menyusun Klausul Perlindungan Budaya dan Identitas

Langkah pertama adalah memasukkan klausul yang secara khusus melindungi nilai, budaya, dan identitas perusahaan ke dalam SPA atau SHA. Klausul ini memuat komitmen pembeli untuk mempertahankan visi, misi, standar kualitas, elemen brand, serta keberlangsungan tim inti dalam jangka waktu tertentu. Ketentuan post-closing ini memastikan karakter dan prinsip perusahaan tidak berubah drastis setelah kepemilikan berpindah tangan.

2. Memperkuat Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Identitas perusahaan sering kali melekat pada merek dagang, desain, konten kreatif, formula, dan aset teknologi internal. Karena itu, seluruh HKI harus dipastikan sudah terdaftar, terdokumentasi, serta dilindungi dengan NDA dan ketentuan non-compete. Perlindungan yang kuat mencegah pengaburan identitas atau penyalahgunaan aset intelektual setelah akuisisi selesai.

3. Memastikan Governance Structure yang Seimbang

Dari sisi tata kelola, perusahaan dapat menegosiasikan struktur governance yang tetap memberikan ruang bagi pendiri atau manajemen lama untuk berperan dalam arah strategis pasca-akuisisi. Hal ini dapat berupa reserved matters, hak veto pada keputusan tertentu, atau kursi di dewan direksi selama masa transisi. Mekanisme ini memastikan nilai dan identitas perusahaan tetap terlindungi dari keputusan yang tidak selaras.

4. Mengatur Mekanisme Integrasi Pasca-Akuisisi

Agar integrasi tidak dilakukan secara terburu-buru, dokumen transaksi perlu mengatur mekanisme integrasi yang terukur, mulai dari timeline perubahan, batasan atas rebranding, hingga kewajiban konsultasi dengan pendiri sebelum keputusan strategis dibuat. Pendekatan bertahap ini membantu menjaga elemen penting perusahaan tetap utuh selama proses penyelarasan.

5. Menetapkan Dokumentasi Komunikasi dan Transparansi

Komunikasi yang buruk dapat menimbulkan gesekan dan miskomunikasi, seperti yang terlihat pada kasus Berry. Untuk itu, perjanjian perlu mencakup kewajiban pembeli memberi laporan berkala, mengadakan pertemuan rutin, serta menetapkan mekanisme penyelesaian sengketa yang adil. Dokumentasi komunikasi yang jelas memastikan proses berjalan transparan dan stabil, tanpa mengorbankan nilai atau identitas perusahaan.

Memerlukan konsultasi terkait akuisisi atau aksi korporasi lainnya? Prolegal Indonesia siap membantu Anda. Klik tautan di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Author: Sabilla Salsabilla

Editor: Genies Wisnu Pradana